Entertainment

Sony umumkan pemenang kompetisi “World of Film” Asia Pasifik



Jakarta (ANTARA) – Sony Electronics Asia Pacific pada Jumat mengumumkan pemenang kompetisi pembuatan movie bertajuk “World of Film” yang diikuti oleh berbagai negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Film karya Joni Astin Ariadi dari Indonesia yang berjudul “Marry Me?” menjadi pemenang untuk kategori umum. Selain itu, movie karya Wong Yin Lam & Wong King Chau dari Hong Kong berjudul “Escape” menjadi pemenang utama kategori pelajar.

Kedua pemenang utama mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 15 ribu dolar AS untuk kategori umum dan 8 ribu dolar AS untuk kategori pelajar.

“Sony berkomitmen untuk mendukung industri perfilman dan juga talenta dari para pembuat film. Kami ingin memberikan suatu wadah di mana mereka itu dari pelajar sampai profesional bisa memamerkan bakat dan keahliannya dalam membuat film,” kata Digital Imaging Product Marketing Sony Indonesia Fae Adelia saat dijumpai wartawan di Jakarta, Jumat.

Baca juga: “Penyalin Cahaya” Wregas Bhanuteja masuk kompetisi Busan Film Festival

Fae mengatakan “World of Film” menjadi acara kompetisi pertama yang diadakan Sony Electronics Asia Pacific yang dimulai pada Agustus tahun lalu. Menurut Fae, pihaknya juga berencana untuk mengadakan kompetisi tersebut setiap tahun.

Fae menambahkan bahwa kompetisi “World of Film” menjadi salah satu bentuk dukungan dari Sony dengan menyediakan wadah untuk para talenta pembuat movie yang ingin unjuk bakat dan karya.

Fae mengatakan pihak Sony berusaha untuk mendukung para pembuat movie dengan menghadirkan teknologi-teknologi terbaru. Oleh sebab itu, pihaknya juga memberikan hadiah kepada pemenang tingkat lokal berupa kamera Sony agar dapat menunjang pembuat movie untuk memproduksi karya lebih baik lagi secara teknis.

“Kita bisa lihat mayoritas pemenangnya adalah pembuat film muda, potensinya masih bisa digali dan masih belajar. Itu kenapa hadiah yang kami pilihkan adalah produk-produk yang bisa menunjang mereka,” katanya.

Fae menyebutkan estimasi whole submisi movie di Asia Pasifik berjumlah sekitar 1.000 karya, sementara dari Indonesia sekitar lebih dari 140 karya. Kompetisi tingkat Asia Pasifik dinilai oleh panelis juri internasional antara lain Felix Ng, Den Lennie, serta Melina Matsuokas.

Sebagai informasi, sebelumnya kedua pemenang utama telah terpilih sebagai pemenang tingkat lokal terlebih dahulu. Adapun kompetisi tingkat lokal di Indonesia, dipilih oleh tiga juri profesional yaitu sutradara Fajar Bustomi dan Upie Guava serta sinematografer Bagoes Tresna.

Selain movie karya Joni, terdapat tiga finalis lain dari Indonesia. Film “Baruna” karya M. Rizky Adly dan “Mimpi Pageblug” oleh Tri Yuda Production menjadi pemenang runner up Indonesia dan movie “Habis Waktu” oleh Magic Clip menjadi pemenang kategori pelajar Indonesia.

Untuk menentukan movie terbaik, sinematografer Bagoes Tresna berpendapat bahwa penilaian tidak hanya mengedepankan dari kualitas teknis, tetapi juga kualitas cerita yang menjadi esensi dari kompetisi “World of Film”.

“Dari sekian banyak karya (dari Indonesia) yang sudah dipilih, ternyata lebih banyak yang presisi. Nggak hanya sekadar hasil gambar, tapi juga mereka punya cerita yang cukup kuat, menarik, dan punya gaya yang berbeda,” kata Bagoes.

Sutradara Fajar Bustomi mengatakan dirinya turut mengapresiasi perwakilan dari Indonesia yang berhasil menjadi juara di tingkat Asia Pasifik.

“Senang banget. Jadi pilihan kami itu nggak salah, ternyata di mata dunia di luar Indonesia menilainya juga sama. Bangga banget sebagai orang Indonesia, ada perwakilan pilihan kami dan ternyata di Asia jadi nomor satu,” katanya.

Dengan kemenangan yang diraih dari perwakilan Indonesia di “World of Film” Asia Pasifik, Fajar berharap hal ini dapat membangkitkan semangat pembuat movie lain di Indonesia. Ia menilai perlunya kehadiran acara atau kompetisi sejenis untuk menjembatani pembuat movie di daerah yang tidak memiliki akses langsung ke industri.

“Dengan adanya acara seperti ini, akan memajukan perfilman Indonesia dan meratakan dari mana pun orang yang kalau punya semangat mau bikin film bisa taruh filmnya di sini dan akhirnya dia bisa dikenal,” kata Fajar.

Baca juga: “Nanny”, “Navalny” menangi kompetisi Festival Film Sundance 2022

Baca juga: Tema “cinta” dominasi entri kompetisi utama Festival Film Berlin

Baca juga: Film “Before, Now & Then” masuk kompetisi utama Festival Film Berlin

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022



Source hyperlink

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close