News

Serikat Pengusaha di Jerman Sepakat Tolak Boikot Eropa Soal Gas Rusia


Boikot Eropa pada gasoline Rusia dapat menghentikan operasional seluruh industri di Jerman

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN — Serikat pengusaha di Jerman sepakat untuk menentang boikot Uni Eropa terhadap penggunaan gasoline asal Rusia. Seperti diwartakan Euronews, Selasa (19/4) serikat pengusaha itu berpendapat boikot tersebut dapat menghentikan operasional seluruh industri di Berlin.

“Embargo gas akan menyebabkan hilangnya produksi, penghentian, deindustrialisasi lebih lanjut, dan hilangnya posisi kerja jangka panjang di Jerman,” kata Ketua Kelompok pengusaha BDA Rainer Dulger dan Ketua Konfederasi serikat pekerja DGB, Reiner Hoffmann dalam pernyataan bersama.

Banyak tokoh di Jerman menyerukan larangan Uni Eropa untuk mengimpor gasoline Rusia menyusul invasi Moskow itu ke Ukraina. Serikat pengusaha memahami bahwa sanksi lanjutan memang diperlukan guna menekan Rusia atas invasi tersebut.

Meski demikian, mereka meminta agar sanksi yang diterapkan juga memiliki dampak minimal bagi para pengusaha. Mereka menambahkan, boikot impor gasoline Rusia akan menyebabkan hilangnya pekerjaan dan penutupan pabrik, terlebih Jerman merupakan ekonomi terbesar di Eropa.

“Dalam diskusi saat ini, kami tidak melihat itu,” kata serikat tersebut.

Para menteri Uni Eropa saat ini sedang memperdebatkan potensi embargo minyak Rusia. Hal tersebut menyusul para pemimpin Ukraina yang mengatakan bahwa pendapatan dari penjualan energi mendanai upaya perang Rusia di Ukraina.

Embargo impor minyak dan gasoline asal Rusia juga mengikuti keputusan Uni Eropa pada April lalu untuk melarang impor batu bara Rusia. Jerman, Italia, Hongaria, dan Austria merupakan negara yang segan untuk memberikan sanksi impor gasoline dan minyak dari negara tersebut karena mereka sangat bergantung pada energi Rusia.

Kanselir Jerman Olaf Scholz telah memperingatkan bahwa penghentian tiba-tiba gasoline Rusia akan menjerumuskan seluruh Eropa ke dalam resesi. Sedangkan analis menilai boikot Uni Eropa terhadap energi Rusia akan menyebabkan harga energi yang lebih tinggi, merugikan konsumen yang sudah menghadapi rekor inflasi Uni Eropa sebesar 7,5 persen.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengatakan Berlin telah memangkas ketergantungannya pada energi Rusia sejak invasi ke Ukraina. Impor minyak Rusia turun dari 35 menjadi 25 persen dan impor gasoline dari 55 menjadi 40 persen.

Meskipun sanksi ekonomi meluas terhadap financial institution dan individu Rusia, Uni Eropa terus mengirim sekitar 850 juta dolar AS per hari ke Rusia untuk minyak dan gasoline, bahkan ketika pemerintah Uni Eropa mengutuk perang di Ukraina. Sebanyak 27 negara Uni Eropa mendapatkan sekitar 40 persen dari gasoline alam mereka dari Rusia dan sekitar 25 persen dari minyak mereka.





Source hyperlink

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close